Wagub Sumbar Dr. Audy Joinaldy mengajak peran ninik mamak sangat diutamakan dalam hidup banagari. Sinergisitas  Tungku tigo sajarangan tali tigo sapilin sebagai wadahnya. Dok.ist


Pasaman, Kupaspost.com- Wakil Gubernur Sumatera Barat Dr. Audy Joinaldy menghadiri Upacara Batagak Pangulu Andiko Ampek Koto Kinali, Dt. Sutan Bando Rajo di Kinali, Kabupaten Pasaman Barat, Rabu (5/1/2022).

"Pincanglah biduak rang Tiku, badayuang sambia manungkuik, Basilang kayu dalam tungku, baitu api mangkonyo iduik. Bulek aia dek pambuluah. Bulek kato dek mufakat. Bulek samo digolongkan. Pipih samo dilayangkan," ungkap Audy mengutip pepatah Minang.

Pada kesempatan berjumpa dengan tokoh-tokoh adat maupun alim ulama dan cadiak pandai tersebut, Audy mengajak para datuak untuk semakin bersinergi membangun daerah dan nagari.

Sebab, menurutnya sinergitas tungku tigo sajarangan, tali tigo sapilin ditambah bundo kanduang dan generasi muda merupakan kunci dalam menggali potensi di nagari. Sekaligus menjadi parik paga dalam nagari.

"Saya yakin setiap Nagari memiliki potensi masing-masing yang bisa dikembangkan kedepan, tinggal bagaimana kita secara bersama-sama mengolah dan memanfaatkan menjadi nilai tambah untuk kemajuan Nagari", ujar Audy Datuk Rajo Pasisia.

Ia menjelaskan, datuak mempunyai tanggung jawab yang besar "Anak dipangku, kamanakan dibimbiang urang kampuang dipatenggangkan. Datuak wajib hukumnya mengetahui dan mengerti serta memahami nilai-nilai adat. Layaknya ulama yang juga harus paham akan nilai-nilai agama.

"Maka dari itu, momentum malewakan panghulu pada hari ini kita maknai secara mendalam bagaimana peran penting seorang panghulu yang diberi gelar Datuak. Sebagaimana kita ketahui Datuak merupakan gelar adat tertinggi di Minangkabau," pinta Wagub muda ini.

Terakhir Audy juga mengajak agar  penghulu terus meningkatkan pendidikannya dan ilmu  pengetahuannya dalam bidang kepemimpinan dan hukum adat, terutama sekali yang berkaitan tentang sako dan pusako sebagai Hal penting yang dirasa dewasa ini. Mengingat sako dan pusako terkadang tak terelakan menjadi akar konflik di masyarakat.

Menyikapi kondisi demikian, menurut Audy para tokoh masyarakat dituntut untuk kembali menyelami pengetahuan terkait hal tersebut.

"Semua fenomena itu tentu tidak akan terus menerus terjadi jika seluruh unsur lembaga-lembaga adat mulai dari Pemerintahan Nagari, KAN, LKAAM Kabupaten/Kota serta para pemangku adat kembali bertegas-tegas menyikapi perubahan sosial yang terjadi dengan menegakkan nilai-nilai adat. Karena itu semua komponen harus bersinergi dengan memegang teguh filosofi “Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah," tutup Audy kembali menegaskan.(MC Prov Sumbar)

 
Top